Kamis, 22 Maret 2007

Masjid Mungil di Padang Ilalang

Baru sempat berhasil menonton lengkap satu musim serial Kanada yang kabarnya sukses ditayangkan selama dua bulan terakhir.
Little Mosque on the Prairie
Berbagai isu hangat mengenai pemahaman dan penerapan Islam ditayangkan di acara ini, dalam kemasan komedi situasi dengan dialog-dialog yang lincah dan menggigit, serta kekonyolan yang ditimbulkan oleh kesalahpahaman budaya antara kedua belah pihak.
Judulnya merupakan pelesetan dari karya Laura Ingalls Wilder
(bacaan masa kecil: cuma suka seri 1, Rumah Kecil di Rimba Besar).

Yasir Hamoudi adalah seorang kontraktor Lebanon yang tinggal di sebuah kota kecil di Kanada, bersama istri tercintanya, Sarah, seorang muallaf bule yang bekerja sebagai sekretaris Wali Kota, Mayor Ann Popowicz.
Putri mereka nan jelita, Rayyan, adalah seorang dokter praktik di rumah sakit yang berkat pendidikan menjadi jauh lebih alim daripada kedua orang tuanya namun berpandangan progresif dalam memperjuangkan emansipasi muslimah.
Yasir menyewa paviliun gereja kepada pendeta Duncan Mc.Gee sebagai kantornya, namun diam-diam memanfaatkan ruangan demi mendirikan tempat ibadah dan silaturahim yang nyaman bagi komunitas muslim di sekitarnya.
Baber Siddiqui adalah seorang profesor ekonomi berwawasan fundamentalis, menganggap masyarakat sekelilingnya kafir, namun naluri keayahan membuat tak sampai hati memaksa putri remaja beliau, Layla, untuk berjilbab.
Selama ini Baber menguasai mimbar khutbah sampai digantikan oleh Ammar Rashid, seorang pengacara klimis baik hati (bertampang bollywood) dari kota besar Toronto yang meninggalkan kesempatan magang di firma ayahnya demi memenuhi panggilan hati untuk menjadi imam di pelosok sana. Perjalanan Ammar sempat terjegal di bandara karena ungkapan yang mudah disalahartikan seperti "bom bunuh diri".
Sementara itu, tantangan terhadap gerakan muslim menyebar dipanas-panasi oleh sang penyiar radio, Fred Tupper, yang biasa mengangkat segala hal kecil menjadi topik hangat, kini mulai mengarah pada masjid mungil tersebut sebagai sasaran.
Namun Fred dan para tokoh lainnya tak dapat menghindarkan diri untuk setiap saat bergaul di kedai kopi Fatima Dinssa, dukun amatir keturunan Nigeria, ahli memasak makanan tradisional yang sedap menggiurkan.




CBC, Little Mosque on the Prairie, episode 1-8 (youtube)


Ketika Tuhan Tertawa



Ada film tahun 2005 Looking for Comedy in the Muslim World, ceritanya pemerintah AS mengirimkan seorang pelawak kepepet, Albert Brooks ke India (dan Pakistan) untuk survei, membuat laporan 500 halaman mengenai apa yang membuat kaum muslim tertawa.
Ia terkejut mendapati tidak ada sama sekali klub komedi di India, gagal dalam penampilan panggungnya, hanya mampu mengumpulkan 6 halaman catatan penelitian, terperangkap dalam situasi yang membingungkan, dan dicurigai orang-orang.
Ia sempat besar hati ketika dipanggil jaringan media Al Jazeera, namun malah mendapat tawaran bermain di sitkom tentang ketololan orang Yahudi yang hidup di lingkungan kaum Muslim...


Setidaknya, dengan adanya LMotP, masyarakat melihat bahwa "ternyata Muslim bisa menertawakan diri sendiri".

Kalau di Indonesia, mungkin film dan sinetron Deddy Mizwar boleh dijadikan acuan. Rano Karno dan Yana Julio juga pernah menegaskan dalam sebuah acara bincang-bincang, bahwa pada kenyataannya sebebas apa pun karya seni, tetap harus dibatasi oleh bingkai.

Lalu, seluas apa bingkai yang bernama "Islam" dalam komedi?

Jadi ingat pustakawan buta dalam novel Il Nome della Rosa yang menyembunyikan naskah pandangan Aristoteles mengenai komedi dan legenda Afrika bahwa Tuhan menciptakan dunia melalui Tawa...

Mungkin tawa masalah yang seurieus dalam sebuah keyakinan.

Tayangan LMotP belum dapat dikatakan seratus persen "islami" tapi yang jelas ini cukup menggambarkan dari berbagai sudut, seperti apa suasana kehidupan Islami dan usaha kaum muslim menyelaraskan diri dengan lingkungan asing, terutama di dunia barat pasca 9/11...

Tentu kita juga sering mengalami hal-hal menggelikan yang serupa. Sehingga, cukup menarik juga membaca komentar panas dingin dari berbagai pihak, baik dalam menanggapi film ini sendiri maupun membahas masalah-masalah yang diangkat oleh tayangan tersebut.

Kalau film Jepang tentang Islam, ada nggak, ya? (lupa)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Akhirnya, ketemu juga sama Kanti di sini:)..Thanks banget infonya, ya...jadi penasaran pengen nonton juga...